Blog priyanta Nugraha
Random header image... Refresh for more!

Asuhan Keperawatan Fraktur / Patah Tulang

Asuhan keperawatan adalah bantuan, bimbingan, penyuluhan, perlindungan yang diberikan oleh seorang perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien atau klien dengan menggunakan metode proses keperawatan. (Nasrul Efendy, 1995)

  1. 1. Pengkajian pada Pasien Fraktur

Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur tibia dan fibula meliputi :

  1. Aktivitas/istirahat

Tanda  : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)

  1. Sirkulasi

Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas), atau hipotensi (kehingan darah)

  1. Neurosensori

Gejala  :   Hilang gerak/sensasi,spasme otot

Kebas/kesemutan (parestesis)

Tanda : Demormitas local; angulasi abnormal,

pemendakan,ratotasi,krepitasi (bunyi berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).

  1. Nyeri/kenyamanan

Gejala                 :     Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera ( mungkin terlokalisasi pada ara jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf.

  1. Penyuluhan/Pembelajaran

Gejala                 :     Lingkungan cidera

Pertimbangan     :     DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari, panggul/pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit

Rencana pemulangan :

Membutuhkan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas/pemeliharaan  rumah.

2. Diagnosa

Diagnosa keperawatan adalah diagnosa yang dibuat oleh perawat profesional, menggambarkan tanda-tanda dan gejala-gejala yang menunjukkan masalah kesehatan yang dirasakan pasien/klien dimana perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya dapat membantu menolongnya.

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien Fraktur menurut Doenges (2000) antara lain :

  1. Nyeri berhubungan dengan spasme otot,edema dan cidera pada jaringan lunak.
  2. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan intregitas tulang
  3. Resiko tinggi terhadap disfungsi terhadap disfungsi neurovaskuler prifer berhubungan dengan  penurunan atau intrupsi aliran darah, edema berlebihan, hipovolemia.
  4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak.
  5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler.
  6. Kerusakan integrasi jaringan kulit berhubungan dengan fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, sekrup.
  7. Kurang pengetahuan terhadap  kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang paparan informasi.

Dari diagnosa diatas dapat di prioritaskan sebagai berikut :

  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan fraktur/trauma.
  2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler.
  3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan alat fiksasi invasive.

3. Perencanaan

Rencana asuhan keperawatan adalah pengkajian yang sistematis dan identifikasi masalah, penentuan tujuan dan pelaksanaan serta cara atau strategi. Rencana tindakan pada pasien fraktur tibia dan fibula menurut Doenges (2000) antara lain :

Diagnosa 1. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan fraktur/trauma.

Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman nyeri terpenuhi.

Kriteria hasil : Pasien dapat mengekspresikan rasa nyeri yang minimal, ekspresi wajah pasien rilek.

Intervensi  :

a : Pertahankan imobilisasi pada bagian yang patah dengan cara bed rest, gips,    spalek, traksi

b : Meninggikan dan melapang  bagian kaki yang fraktur

c : Evaluasi rasa nyeri, catat tempat nyeri, sifat, intensitas, dan tanda-tanda nyeri non verbal

d.  : Kolaborasi dalam pemberian analgetik

Rasional :

a. Mengurangi rasa nyeri dan mencegah dis lokasi tulang dan perluasan luka pada  jaringan.

b.   Meningkatkan aliran darah, mengurangi edema dan mengurangi rasa nyeri.

c.   Mempengaruhi penilaian intervensi, tingkat kegelisahan mungkin akibat dari presepsi/reaksi terhadap nyeri.

d.   Diberikan obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri.

Diagnosa II Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka/tulang neuromuskuler.

Tujuan                   : ekstremitas yang rusak dapat digerakkan.

Kreteria hasil         : Pasien mampu melakukan aktivitas secara mandiri

Intervensi              :

a.  : Kaji tingkat mobilitas yang bisa dilakukan pasien

b. : Anjurkan gerak aktif pada ekstremitas yang sehat

c. : Pertahankan penggunaan spalek dan elastis verban

Rasional    :

a. : Mengetahui kemandirian pasien dalam mobilisasi

b. : Rentang gerak meningkatkan tonus atau kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan

c.   : Mempertahankan imobilisasi pada tulang yang patah.

Diagnosa III. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan alat fiksasi invasive.

Tujuan                   : Tidak terjadi adanya infeksi

Kreteria hasil         : Tidak ditemu-kan tanda-tanda infeksi seperti : rubor, tumor, dolor, kolor.

Intervensi  :

a.   Kaji tanda vital dan tanda infeksi.

b. Ganti balutan luka secara septik aseptik setiap hari

c.   Anjurkan  pasien untuk menjaga kebersihan.

Rasional  :

a.   Mengetahui keadaan umum pasien dan dugaan adanya infeksi.

b.   Meminimalkan infeksi sekunder dari alat yang digunakan.

c.   Untuk mencegah kontaminasi adanya infeksi.

4.   Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan disesuaikan dengan perencanaan tindakan keperawatan oleh perawat dan tim kesehatan lain.

Fase operasional merupakan puncak implementasi dengan berorientasi pada tujuan, dapat dilakukan dengan intervensi independen serta interdependen.

Pelaksanaan keperawatan pada pasien fraktur complete tibia dan fibula  adalah mewujudkan rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.

5.  Evaluasi

Evaluasi : fase akhir dari keperawatan adalah evaluasi terhadap keperawatan yang diberikan, sedangkan hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan dan kualitas data teratasi atau tidaknya masalah klien, pencapaian tujuan serta ketetapan intervensi keperawatan

Evaluasi adalah penilaian terhadap respon pasien setelah dilakukan keperawatan yang disusun pada tahap perencanaan. Pada pasien fraktur tibia dan fibula (cruris) post op orif dengan tujuan dan kriteria hasil seperti yang ada di atas, maka evaluasi yang diharapkan :

1.   Menyatakan perasaan nyeri, hilang atau terkontrol.

2.   Pasien memperlihatkan kemandirian dalam aktifitas.

3.   Pasien mengetahui kondisi, prognosis dan kebutuhan tindakan medis,  memperlihatkan tanda vital yang normal.

4.   Tidak mengalami infeksi lokal maupun sistemik.

5.   Memperlihatkan suhu tubuh yang normal.

6.  Dokumentasi

Pendokumentasian adalah kumpulan informasi perawatan dan kesehatan pasien yang dilakukan oleh perawat sebagai pertanggung jawaban dan pertangung gugatan terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan perawat pada pasien dalam melakukan asuhan keperawatan.

Kegunaannya yaitu :

a.  Sebagai alat komunikasi antar anggota keperawatan dan antara anggota      tim kesehatan lainnya.

b.  Sebagai dokumen resmi dalam sistem pelayanan kesehatan.

c.               Dapat digunakan alat bahan penelitian dalam bidang keperawatan.

d.  Sebagai alat yang dapat digunakan dalam bidang pendidikan keperawatan.

e.   Sebagai alat pertanggungjawaban dan pertanggunggugatan asuhan keperawatan yang diberikan terhadap pasien.

Related posts:

  1. Fraktur / Patah Tulang
  2. ASKEP Defisit Perawatan Diri

4 comments

1 susanto { 06.20.10 at 11:12 pm }

mampir…

2 prie { 06.28.10 at 8:20 pm }

sippppp….

3 sutarjo { 12.06.10 at 5:05 pm }

numpang lewat gan…….

4 prie { 12.16.10 at 6:42 pm }

monggo mas silahkan, mau lewat depan pa samping

Leave a Comment